<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Water4thesoul</title>
	<atom:link href="http://water4thesoul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://water4thesoul.wordpress.com</link>
	<description>Menyegarkan, Memulihkan, Menguatkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Mar 2009 10:18:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='water4thesoul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Water4thesoul</title>
		<link>http://water4thesoul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://water4thesoul.wordpress.com/osd.xml" title="Water4thesoul" />
	<atom:link rel='hub' href='http://water4thesoul.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>DIUJUNG LORONG ITU</title>
		<link>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/07/7/</link>
		<comments>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/07/7/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 01:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>water4thesoul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/07/7/</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya aku mau mati. Aku tak sanggup lagi menaggung semua itu. Tidak ada orang yang memperdulikanku. aku sendiri menghadapi persoalan ini. Semua yang disekitarku selalu menuntut harus ini itulah begini begitulah tapi tidak ada yang diperbuat. Siapakah aku ? aku sendiri dan tak berdaya. Aku tak sanggup lagi&#8230;. Beberapa waktu lalu kami mengalami kecelakan mobil yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=water4thesoul.wordpress.com&amp;blog=6820952&amp;post=7&amp;subd=water4thesoul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya aku mau mati. Aku tak sanggup lagi menaggung semua itu. Tidak ada orang yang memperdulikanku. aku sendiri menghadapi persoalan ini. Semua yang disekitarku selalu menuntut harus ini itulah begini begitulah tapi tidak ada yang diperbuat. Siapakah aku ? aku sendiri dan tak berdaya. Aku tak sanggup lagi&#8230;.</p>
<p>Beberapa waktu lalu kami mengalami kecelakan mobil yang mengakibatkan 2 orang dari kami harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Yang lain mengalami luka ringan termasuk aku. Yang seorang betis kaki sebelah kanannya terkena pecahan kaca mobil, tulang belakangnya mengalami benturan dan mungkin retak. Dan karena itu dia hampir saja lumpuh. Yang seorang lagi kepalanya terbentur kaca, dahinya robek, tengkoraknya sedikit retak, dan ditangan dan kaki serta lehernya terkena pecahan kaca. Dan itu adalah pacar saya. Peristiwa itu sudah hampir sebulan lewat. Sebagian besar dari mereka sudah mulai pulih. Namun masih ada beberapa yang harus dikontrol ke dokter. Salah satunya adalah pacar saya. Kejadian itu meninggalkan bekas luka pada tubuhnya. .<span id="more-7"></span><br />
Luka di lengan kanannya masih dibungkus perban. Namun setiap membersihkannya dapat terlihat bahwa jahitannya agak sembarangan. Sehingga kulit yang terbelah kelihatan tidak disambungkan dengan baik. Begitupun dengan Kakinya dan lehernya. Bahkan lehernya tidak di apa apakan hasilnya lukanya mulai memerah dan menimbulkan bekas yang jelas.(minta maaf kepada dokter dan perawat, saya tahu tidak semua kalian yang seperti itu) Masih untung Luka di bagian kepala bisa ia lindungi dengan rambutnya. Namun semua itu tidak sebanding dengan penderitaan yang dialaminya sekarang. Rasa malu, tidak percaya diri, rasa bersalah dan rasa benci dengan sumua yang terjadi. Dan aku ada disana menyaksikan dan merasakannya. “Semua adalah salahku” kataku sambil menunduk sedih. “Andaikan aku tidak menyetujui untuk pergi hari itu”,”andai aku lebih tegas untuk menolak”. Semua telah terjadi dan semua menjadi tanggung jawabku. Persoalan dirumah sakit memang telah selesai. Namun meninggalkan rasa sedih di hatiku. Orang-orang yang seharusnya bertanggungjawab malah mulai menyalahkan situasi menyalahkan orang lain mulai membenci dan mencari keuntungan diri sendiri. Belum lagi saat harus kontrol ke dokter. Tidak ada yang perduli. Setiap keluhan yang ia sampaikan dan rasakan membuat hatiku tambah sedih dan tak berdaya. Puncaknya malam ini aku hendak berjalan pulang, aku berjalan di sepanjang lorong itu tertunduk merenungi semuanya dan yang kudapati adalah aku sendiri, dan sendiri. Aku takut, sedih, Rasanya aku mau mati. Aku tak sanggup lagi menaggung semua itu. Tidak ada orang yang memperdulikanku. aku sendiri menghadapi persoalan besar ini. Semua yang disekitarku selalu menuntut harus ini itulah begini begitulah tapi tidak ada yang diperbuat. Siapakah aku ? aku sendiri dan tak berdaya. Aku tak sanggup lagi&#8230;. &#8230;.</p>
<p>Lorong itu gelap dan sunyi sehingga bisa melihat langit dengan jelas. Seperti biasa ku angkat wajahku memandang langit malam itu. Teringat masa-masa indah sebelum peristiwa itu terjadi. Bersama dia kami sering duduk di teras rumah kosnya menunggu bintang jatuh. Dan menikmatinya saat hal itu terjadi. Tidak terhitung malam yang kami habiskan hanya menunggu hal itu. Dan langit tidak pernah mengecewakan kami. Rasanya masa itu tidak akan terulang kembali. Di lorong yang panjangnya kira kira 300 m itu dengan rasa yang tak terhankan terucap keluh “ Tuhan dimanakah Engkau saat ini”, “Mengapa engkau ijinkan ini semua terjadi dan aku tidak merasakan Engkau ada bersamaku?”, “ saya tahu kalau Engkau bersamaku semuanya pasti akan baik baik saja, tapi dimanakah Engkau ? Dimana, Tuhan? “. Aku merindukan masa-masa indahku dulu.Entah muncul dari mana doa ini terucap “ Tuhan, kalau Engkau masih bersamaku ijinkan aku melihat bintang jatuh sebelum lorong ini berakhir?”. Aku menatap langit dan menunggu jawaban itu. Tanpa berkedip terus aku berjalan sambil menunggu tanda itu.Tapi apa yang ku tunggu tidak juga terjadi. Mungkinkah doaku konyol ? Aku tidak tahu tapi aku sangat mengharapkannya. Tapi tak ada yang terjadi. Semakin dekat aku keujung lorong itu semakin aku merasa gelisah. Pikirku memang betul apa yang aku pikirkan. Aku memang sendiri. Semakin dekat gelisa itu berubah menjadi sedih. Sedih itu memuncak. Dan diujung lorong itu aku rasa memang semuanya betul dan kesimpulannya sudah jelas, tidak ada yang peduli padaku, bahkan Tuhan..inilah akhirnya. Aku sendiri. Aku tertunduk, sedih, kecewa. ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Tidak ada harapan lagi, Sempat terpikir untuk mengakhiri segalanya. Atau kulanjutkan hidup dengan kehampaan. Diujung lorong itu sebelum berbelok kearah rumahku, dengan airmata mengalir di pipiku sekali lagi kupandang langit malam itu. Namun bukan untuk menunggu dan melihat bintang jatuh. Kulakukan itu untuk menerima kenyataan ini bahwa “ tidak ada yang memperdulikanku”. Beberapa langkah lagi hampir diujung lorong itu, dipuncak kehancuran hidupku Tiba tiba sebuah cahaya kecil melintas di langit. Cahaya itu bedah dengan cahaya lain yang menghiasi malam itu. Ekornya yang panjang begitu indah. Warnanya putih, bercampur merah, mungkin hijau dan biru. Walau hanya sepersekian detik namun jelas aku melihatnya. Bintang Jatuh. Di ujung lorong itu Aku menghapus air mataku. Tiba tiba saja ada suatu rasa yang baru, rasa damai, rasa senang bercampur rasa tenang, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Terasa ada orang mengangkat beban yang ada di pundakku dan sekarang terasa ringan. Terasa melompat dari puncak kekacaun ke pincak kedamaian. Ahhh. Sesaat ku terhanyut dalam kedamaian itu. Dan muncul keyakinan baru bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pulang kerumah sebagai pribadi yang baru. “Kau tidak pernah sendirian”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/water4thesoul.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/water4thesoul.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=water4thesoul.wordpress.com&amp;blog=6820952&amp;post=7&amp;subd=water4thesoul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/07/7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d4382426e236d9a8714c995313e8207?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">water4thesoul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAU TIDAK SENDIRI</title>
		<link>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/04/kau-tidak-sendiri/</link>
		<comments>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/04/kau-tidak-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 10:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>water4thesoul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://water4thesoul.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu angin Desember bertiup begitu kencangnya sehingga membuat jalanan di penuhi dengan daun-daun kering yang beterbangan dari pepohonan yang tumbuh rindang di tepian jalan. Gemercik ombak yang memecah di bebatuan terdengar hingga ke sela-sela rumah. Namun langit malam itu begitu indah. Selepas melaksanakan tugas, kami bergegas pulang ke penginapan di pinggiran kota itu. Walaupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=water4thesoul.wordpress.com&amp;blog=6820952&amp;post=3&amp;subd=water4thesoul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu angin Desember bertiup begitu kencangnya sehingga membuat jalanan di penuhi dengan daun-daun kering yang beterbangan dari pepohonan yang tumbuh rindang di tepian jalan. Gemercik ombak yang memecah di bebatuan terdengar hingga ke sela-sela rumah. Namun langit malam itu begitu indah. Selepas melaksanakan tugas, kami bergegas pulang ke penginapan di pinggiran kota itu. Walaupun cuaca begitu suram tapi agaknya tidak menghalangi sebagian orang untuk keluar malam itu untuk bersenang-senang ataupun mencari sesuap nasi. Kami saling melempar kata membangkitkan canda tawa menyejukan suasana malam itu. Tak terasa kami berempat sudah terduduk letih di kursi ruangan rumah itu. Merenung akan kejadian yang baru saja kami alami bersama dalam keheningan. Sesekali terdengar suara ombak yang memecah di batuan di dekat penginapan itu.</p>
<p><span id="more-3"></span> Penginapan letaknya lima belas meter dari pantai, milik salah seorang Sahabat kami. Kami terus terlena dengan pikiran kami masing-masing. Tapi tak dapat kami sangkal bahwa suara ombak yang memecah mengalakan lamunan kami. Suaranya meraung-raung memanggil. Suara itu terdengar seperti seekor singa yang sangat bernafsu untuk memangsa lawannya. Entah kenapa muncul rasa takut bercampur penasaran saat-saat mendengar suara itu. Terbayang bencana Aceh yang mencekam dan bencana bencana laut yang menakutkan yang pernah terlintas dalam berita malam. Takut karena suara itu membuat gambaran di pikiran kami mengenai kengerian, mencekam dan kegelapan. Tapi rasa penasaran muncul karena ingin mengetahui ombak yang seperti apa sih yang telah membuat kami terjaga dari perenungan kami. Ingin melihatnya namun rasa takut terus merasuki jiwa. ………………………………….. Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata. Namun berlahan rasa penasaran kami meruntuhkan ketakutan itu. Bersama seorang Sahabat kami memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku kenakan jaket hitamku dan kami melangkah keluar. Berlahan menuju ketepian pantai. Setiap langkah terayuh membangun kembali rasa takut dalam diriku. Berlahan tapi terus berjalan setapak demi setapak sampai kami tiba akhir jalanan. Masih ada sekitar lima meter jarak antara pantai dengan kami. Beberapa batu besar terbentang diantara kami, dan ombak terlihat begitu dekat sekali memecah di antara batuan itu. Saat itu bukan saja takut tapi gemetar menerawang tubuhku. Kumenarik nafas panjang, berlahan Aku beranikan diri untuk maju beberapa langkah kedepan berdiri di atas sebuah batu .meninggalkan Sahabatku yang takut untuk lebih jauh. Aku mengarahkan pandanganku kearah lautan lepas. Ombak dan suaranya terus memecah di bawah kakiku. Sesekali percikan air sampai di kakiku. Tidak ada apa apa lagi didepan mataku salain rasa sendiri, gundah, ngerih dan takut. Jantungku yang berdetak begitu cepat, kakiku yang bergetar, dan air mata yang seakan-akan mau keluat dari mataku. Terbesit doa “Tuhan ….. aku tidak mau mati disini” namun saya tidak bergerak sedikitpun dari tempatku. Dalam hatiku aku ingin menguji diriku sendiri namun rasanya aku tidak mampu. Sebagian diriku ingin aku bertahan disana dan sebagian lagi dipenuhi perasaan untuk tetap bertahan. Tinggal atau mundur&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Kupejamkan mataku, Tertunduk malu pada diriku dan semesta aku putuskan untuk mundur. Itulah yang harus kulakukan. Ku lipat tanganku ingin mengatakan kepada alam malam itu “kau menang”,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Sesaat aku buka mataku untuk melangkahkan kakiku mundur, tiba-tiba &#8230;&#8230;&#8230;. aku merasakan seseorang ada didekatku. Seseorang yang aku lupakan karena aku lebih sibuk mengurusi ketakutan dan pikiranku. Seseorang yang tidak aku ingat&#8230;&#8230; Sahabatku.Dia memutuskan untuk bersamaku. Kehadirannya mengubah sama sekali perasaanku. Aku merasa Damai. Dia sama sekali tak mengerti yang kurasa dan kupikirkan tapi seperti seekor sapi yang kuknya dilepaskan, seperti seorang tawanan perang yang dibebasksan musuh seperti itu hatiku yang terasa lepas bebas dari segala ketakutan, dan kengerian malam itu. Aku merasa seseorang telah merampas semua kekuatiran dan ketakutanku dan membuangnya jauh jauh kedalam samudera. Ingin aku teriak, ya memang aku sudah berteriak “ Ouhhhhhh”. Wajahku mulai berseri. Senyum terlintas di bibirku. Ketakutan dan kekuatiranku malam itu terasa tidak ada apa-apanya. Kuasa apakah yang orang ini bawa. Siapakah dia ? tapi dia bukanlah orang yang special bagiku, dia hanyalah manusia biasa, sama seperti saya.. Lalu mengapa semua itu bisa terjadi, mengapa takut bisa menjadi senyum, mengapa gelap menjadi terang, mengapa derita bisa menjadi kebahagian, mengapa malam itu begitu indah ? ……………… Kami pulang ke tempat penginapan itu dengan Damai dan tertidur lelap. Yesus adalah sahabat sejati&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/water4thesoul.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/water4thesoul.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=water4thesoul.wordpress.com&amp;blog=6820952&amp;post=3&amp;subd=water4thesoul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://water4thesoul.wordpress.com/2009/03/04/kau-tidak-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d4382426e236d9a8714c995313e8207?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">water4thesoul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
