Posted by: water4thesoul on: 7 March 2009
Rasanya aku mau mati. Aku tak sanggup lagi menaggung semua itu. Tidak ada orang yang memperdulikanku. aku sendiri menghadapi persoalan ini. Semua yang disekitarku selalu menuntut harus ini itulah begini begitulah tapi tidak ada yang diperbuat. Siapakah aku ? aku sendiri dan tak berdaya. Aku tak sanggup lagi….
Beberapa waktu lalu kami mengalami kecelakan mobil yang mengakibatkan 2 orang dari kami harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Yang lain mengalami luka ringan termasuk aku. Yang seorang betis kaki sebelah kanannya terkena pecahan kaca mobil, tulang belakangnya mengalami benturan dan mungkin retak. Dan karena itu dia hampir saja lumpuh. Yang seorang lagi kepalanya terbentur kaca, dahinya robek, tengkoraknya sedikit retak, dan ditangan dan kaki serta lehernya terkena pecahan kaca. Dan itu adalah pacar saya. Peristiwa itu sudah hampir sebulan lewat. Sebagian besar dari mereka sudah mulai pulih. Namun masih ada beberapa yang harus dikontrol ke dokter. Salah satunya adalah pacar saya. Kejadian itu meninggalkan bekas luka pada tubuhnya. .
Luka di lengan kanannya masih dibungkus perban. Namun setiap membersihkannya dapat terlihat bahwa jahitannya agak sembarangan. Sehingga kulit yang terbelah kelihatan tidak disambungkan dengan baik. Begitupun dengan Kakinya dan lehernya. Bahkan lehernya tidak di apa apakan hasilnya lukanya mulai memerah dan menimbulkan bekas yang jelas.(minta maaf kepada dokter dan perawat, saya tahu tidak semua kalian yang seperti itu) Masih untung Luka di bagian kepala bisa ia lindungi dengan rambutnya. Namun semua itu tidak sebanding dengan penderitaan yang dialaminya sekarang. Rasa malu, tidak percaya diri, rasa bersalah dan rasa benci dengan sumua yang terjadi. Dan aku ada disana menyaksikan dan merasakannya. “Semua adalah salahku” kataku sambil menunduk sedih. “Andaikan aku tidak menyetujui untuk pergi hari itu”,”andai aku lebih tegas untuk menolak”. Semua telah terjadi dan semua menjadi tanggung jawabku. Persoalan dirumah sakit memang telah selesai. Namun meninggalkan rasa sedih di hatiku. Orang-orang yang seharusnya bertanggungjawab malah mulai menyalahkan situasi menyalahkan orang lain mulai membenci dan mencari keuntungan diri sendiri. Belum lagi saat harus kontrol ke dokter. Tidak ada yang perduli. Setiap keluhan yang ia sampaikan dan rasakan membuat hatiku tambah sedih dan tak berdaya. Puncaknya malam ini aku hendak berjalan pulang, aku berjalan di sepanjang lorong itu tertunduk merenungi semuanya dan yang kudapati adalah aku sendiri, dan sendiri. Aku takut, sedih, Rasanya aku mau mati. Aku tak sanggup lagi menaggung semua itu. Tidak ada orang yang memperdulikanku. aku sendiri menghadapi persoalan besar ini. Semua yang disekitarku selalu menuntut harus ini itulah begini begitulah tapi tidak ada yang diperbuat. Siapakah aku ? aku sendiri dan tak berdaya. Aku tak sanggup lagi…. ….
Lorong itu gelap dan sunyi sehingga bisa melihat langit dengan jelas. Seperti biasa ku angkat wajahku memandang langit malam itu. Teringat masa-masa indah sebelum peristiwa itu terjadi. Bersama dia kami sering duduk di teras rumah kosnya menunggu bintang jatuh. Dan menikmatinya saat hal itu terjadi. Tidak terhitung malam yang kami habiskan hanya menunggu hal itu. Dan langit tidak pernah mengecewakan kami. Rasanya masa itu tidak akan terulang kembali. Di lorong yang panjangnya kira kira 300 m itu dengan rasa yang tak terhankan terucap keluh “ Tuhan dimanakah Engkau saat ini”, “Mengapa engkau ijinkan ini semua terjadi dan aku tidak merasakan Engkau ada bersamaku?”, “ saya tahu kalau Engkau bersamaku semuanya pasti akan baik baik saja, tapi dimanakah Engkau ? Dimana, Tuhan? “. Aku merindukan masa-masa indahku dulu.Entah muncul dari mana doa ini terucap “ Tuhan, kalau Engkau masih bersamaku ijinkan aku melihat bintang jatuh sebelum lorong ini berakhir?”. Aku menatap langit dan menunggu jawaban itu. Tanpa berkedip terus aku berjalan sambil menunggu tanda itu.Tapi apa yang ku tunggu tidak juga terjadi. Mungkinkah doaku konyol ? Aku tidak tahu tapi aku sangat mengharapkannya. Tapi tak ada yang terjadi. Semakin dekat aku keujung lorong itu semakin aku merasa gelisah. Pikirku memang betul apa yang aku pikirkan. Aku memang sendiri. Semakin dekat gelisa itu berubah menjadi sedih. Sedih itu memuncak. Dan diujung lorong itu aku rasa memang semuanya betul dan kesimpulannya sudah jelas, tidak ada yang peduli padaku, bahkan Tuhan..inilah akhirnya. Aku sendiri. Aku tertunduk, sedih, kecewa. ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Tidak ada harapan lagi, Sempat terpikir untuk mengakhiri segalanya. Atau kulanjutkan hidup dengan kehampaan. Diujung lorong itu sebelum berbelok kearah rumahku, dengan airmata mengalir di pipiku sekali lagi kupandang langit malam itu. Namun bukan untuk menunggu dan melihat bintang jatuh. Kulakukan itu untuk menerima kenyataan ini bahwa “ tidak ada yang memperdulikanku”. Beberapa langkah lagi hampir diujung lorong itu, dipuncak kehancuran hidupku Tiba tiba sebuah cahaya kecil melintas di langit. Cahaya itu bedah dengan cahaya lain yang menghiasi malam itu. Ekornya yang panjang begitu indah. Warnanya putih, bercampur merah, mungkin hijau dan biru. Walau hanya sepersekian detik namun jelas aku melihatnya. Bintang Jatuh. Di ujung lorong itu Aku menghapus air mataku. Tiba tiba saja ada suatu rasa yang baru, rasa damai, rasa senang bercampur rasa tenang, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Terasa ada orang mengangkat beban yang ada di pundakku dan sekarang terasa ringan. Terasa melompat dari puncak kekacaun ke pincak kedamaian. Ahhh. Sesaat ku terhanyut dalam kedamaian itu. Dan muncul keyakinan baru bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pulang kerumah sebagai pribadi yang baru. “Kau tidak pernah sendirian”